Kotaku OSP 3 Jatim
SHARE :

Bank Sampah “Palem Sejahtera”

15
06/2020
Kategori : Berita
Komentar : 1 komentar
Author : Admin Web


Bank Sampah “Palem Sejahtera”

Bermula dari kegelisahan masyarakat atas sampah yang menumpuk di beberapa sudut lingkungan permukiman Desa Ketegan Kecamatan Taman, ditambah semakin padatnya hunian menjadikan kawasan permukiman di desa tersebut terlihat sangat tidak sedap dipandang alias kumuh. Hal ini menyebkan kegundahan masayarakat sekitar. Problem sampah tersebut semakin parah saat musim penghujan tiba. Bau busuk menyengat harus diterima warga, plus lalat dan nyamuk yang mulai mengganggu.

Dengan kondisi lingkungan demikian, LKM “Ketegan Sejahtera” bersama stakeholder desa lainnya bergandengan dan berinisiatif untuk mendirikan bank sampah. “Ini bagian dari ikhtiar untuk ikut menyelesaikan permasalah sampah” jelas Suprijadi sebagai Koordinator LKM. Bank Sampah tersebut didirikan dengan support pendanaan awal berasal dari hasil laba UPK (Unit Pengelola Keuangan).

Kegiatan bank sampah ini dimulai pada tahun 2018 tepatnya pada bulan Oktober dengan berkerjasama DLHK. DLHK turut menjadi pembimbing pelaksanaan dan  pengelolaan bank sampah, mulai dari membentuk struktur lembaga sampai dengan teknis serta sosialisasi ke masyarakat selama 3 bulan. Setelah 3 bulan lamanya merintis dengan susah payah dan ternyata berhasil, akhirnya pembentukan Bank “Sampah Palem Sejahtera” bisa berjalan meskipun masih belum maksimal.

Prinsipnya berjalan sambil belajar dan mengembangkannya. “Landasan awal pembentukan Bank Sampah ini untuk memotivasi dan memberikan wawasan ke warga agar mau dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya,” tegas Suprijadi yang turut menjadi pioneer pendirian Bank Sampah Palem Sejahtera

Struktur KSM Bank Sampah “Palem Sejahtera” ini terdiri dari Sutarminingsih (Ketua), Nina Marlina (Sekretaris), Utami (Bendahara) Lia (Penimbang) dan Istiqomah (Pemilah).

Suprijadi yang sudah menjadi relawan sejak muda menerangkan bahwa lambat laun penangangan masalah sampah dengan kegiatan Bank Sampah akan berhasil. Keberhasilan tersebut bisa dimulai dari setiap keluarga. Jika dalam satu keluarga ada istri atau Ibu Rumah Tangga yang peduli sampah, akan dapat mempengaruhi bapak atau suaminya. Dan selanjutnya mulai mempengaruhi anak-anak.  “Sekarang saya lihat mulai nular pada anak-anak yang tidak membuang kemasan jajannya, tapi dikumpulkan di rumah,” cerita Sutarminingsih (Ketua Bank Sampah) penuh semangat. Perubahan dari individu dan rumah tangga tersebut, akan menjadi perubahan awal masyarakat.“Sudah mulai ada perubahan perilaku masyarakat,” jelas perempuan aktivis desa tersebut.

Masyarakat sudah memperlakukan sampah tidak seperti sebelumnya yang hanya terbuang sia-sia dan menjadi sampah permukiman. Sekarang sampah rumah tangga tersebut berubah menjadi barang yang berpotensi menjadi Rupiah. Dan hal tersebut, sedikit banyak sangat membantu perekonomian keluarga.  “Bagi ibu rumah tangga yang kondisi ekonominya pas-pasan jadi lebih antusias untuk mengumpulkan sampah rumah tangganya, karena bisa jadi tambahan,” jelas Utami (Bendahara Bank Sampah).

Bank Sampah “Palem Sejahtera” Desa Ketegan Kecamatan Taman seperti layaknya lapak mini yang menampung limbah sampah. Limbah sampah yang ditampung, sebelumnya telah dipilah-pilah terlebih dulu sebelum ditimbang ke pengepul. Jadi yang dikumpulkan adalah limbah sampah yang masih memiliki nilai ekonomi seperti plastik dan kertas. Warga yang sudah tergabung menjadi nasabah bank sampah harus memilah sampah di rumahnya. Sampah yang dipilih tersebut, sebelum disetorkan ke Bank Sampah, harus ditampung di masing-masing rumah tangga terlebih dahulu. Kemudian pada hari tertentu disetorkan ke bank sampah, dan hasilnya dimasukkan ke dalam buku tabungan. Rata-rata bank sampah beroperasi setiap per dua pekan sekali.

Orientasi utama tujuan dibentuknya bank sampah yakni ingin membuka paradigma tentang yang baik dan benar. Paradigma yang tadinya terlalu cuek terhadap limbah sampah, kini menjadi lebih peduli karena ada nilai ekonomis yang dihasilkan dari sampah.

Setiap warga yang ikut terlibat dalam bank sampah ketika menyetorkan hasil pilahan limbah yang ditimbang mempunyai buku tabungan. Biasanya uang hasil tabungan dari memilah dan menyetorkan limbah ke bank sampah diambil oleh warga setahun minimal dua termin. Pada umumnya warga mengambil uang tabungan, ketika memasuki tahun ajaran baru sekolah dan jelang hari lebaran.“Ramainya pas musim anak sekolah dan lebaran. Kalau rajin banget satu tahun bisa Rp. 500 ribu sampai 1 jutaan (per orang).” jelas Utami (Bendahara Bank Sampah “Palem Sejahtera”.

Sutarminingsih selaku ketua Bank Sampah menjelaskan bahwah hingga kini tercatat sudah ada 350 anggota (Nasabah) Bank Sampah. Jumlah tersebut bertambah drastis jika dibandingkan dengan kondisi awal yaitu hanya 45 Nasabah. Jumlah tersebut termasuk anggota atau nasabah yang aktifk melakukan pengumpulan limbah.

Jenis sampah yang dipilih dapat dikelompokkan menjadi 4 macam kelompok secara garis besar. 4 macam kelompok tersebut, yakni 1). Jenis Logam (Besi, Seng, alumunium dll); 2). Jenis Kertas (buku, Koran, majalah, kardus dll); 3). Jenis Plastik (Pipa, Botol Plastik, botol minuman, bungkus makanan dll); dan 4). Kaca (botol botol kaca, cermin, gelas, Pot kaca Dll). Selain itu Bank Sampah juga menerimah limbah minyak goreng bekas atau biasa disebut Jelantah. Semua jenis sampah yang memiliki nilai ekonomis tersebut, semuanya ada di setiap rumah tangga. Jadi yang selama ini jadi masalah, sekarang jadi rupiah.

Selain di Ketegan Kecamatan Taman. Di Desa Kebonsari dan Desa Candi Kecamatan Candi juga dikembangkan Bank Sampah sebagai bagian dari ikhtiar untuk mengurangi persoalan sampah. Melalui KSM Karya Abadi (Kebonsari) dan KSM Bank Sampah (Candi), mereka mendampingi masyarakat mulai dari pemilahan sampah hingga penimbangan, sebelum hasil dimasukkan ke Buku Tabungan.

Fauzi dan Harun, selaku LKM berharap, Bank Sampah  tidak hanya dalam rangka menyelesaikan masalah sampah di lingkungan permukiman. Tapi juga ada dampak ekonomi. “Pelan-pelan arahnya ke sana,” tegas Harun yang sudah jadi relawan sejak tahun 2009 tersebut. (Yaz)

(Akhmad Yazid / Askot KK Kab. Sidoarjo)

Berita Lainnya

24
06/2020
“Romantisisasi” Kemiskinan
Author : Admin Web
24
06/2020
23
06/2020
KOTAKU, Masyarakat Harus Tahu
Author : Admin Web
15
06/2020


1 komentar

Abdul Adjis

Monday, 15 Jun 2020

Barokallah….

Reply

Tinggalkan Komentar